Jumat, 28 Februari 2014
Pertemuan rilis BlankOn 9 "Suroboyo"
| Pemateri Ari Efendi Menerangkan Desktop Enviropment BlankOn 9 |
| Para Anggota seru mengikuti pesta rilis BlankOn 9 |
Kamis, 27 Februari 2014
Mengapa Linux Lebih baik
Sebuah cerita :
Seorang teman saya mengeluh karena komputernya sudah
menjadi lambat. Karena dia hanya seorang pengguna awam , dia tidak
mengerti apa penyebabnya. Tapi dia sangat merasakan bahwa komputernya
semakin lama semakin lambat. Ini sangat mengganggu tugas kuliahnya. Dan
seperti biasa, sistem operasi yang digunakan adalah Windows. Apakah anda pernah mengalaminya juga? Apa sebenarnya yang
menyebabkan Windows menjadi lambat seiring waktu? Salah satu penyebab menurunnya kecepatan Windows adalah karena
file-file di harddisk yang sudah tidak tersusun rapi lagi. Dalam
bahasa teknis, file-file dalam hard disk yang sudah tidak tersusun
rapi itu disebut mengalami fragmented alias terpecah-pecah.
Agar file-file dalam hard disk menjadi rapi kembali, maka hard disk
harus di defrag. Defrag adalah kata lain untuk “susun ulang”.
Men-defrag hard disk artinya menyusun ulang data yang ada dalam hard
disk sehingga menjadi rapi kembali. Dampaknya adalah kecepatan
komputer akan kembali normal.
Penjelasanya Mengapa Linux Lebih baik :
Windows sudah menyediakan aplikasi bawaan untuk proses
defrag. Namanya adalah Disk Defragmenter (biasanya ada di Start -
Accessories - System Tools). Disk Defragmenter berfungsi untuk
menganalisa volume drive dan menata ulang semua file dan folder yang
ada di drive yang di defrag. Tujuannya adalah supaya semua file dan
folder tersebut dirapikan susunannya sehingga sistem dapat lebih
mudah dan cepat saat mengakses file dan folder tersebut. Proses
defrag sangat disarankan untuk dilakukan sesering mungkin. Semakin
sering, semakin baik. Rata-rata proses defrag disarankan untuk
dilakukan minimal sebulan sekali. Selain Disk Defragmenter, di dunia
maya juga tersedia banyak aplikasi defrag, yang selain lebih baik
daripada bawaan Windows, juga tersedia gratis.
Tetapi, kita harus berhati-hati ketika melakukan proses defrag.
Biasanya, sebelum proses defrag dimulai, disarankan untuk menutup
semua aplikasi agar hasil defrag maksimal. Ini untuk menghindari
munculnya pesan error, seperti: SOME FILE ON THIS VOLUME COULD
NOT BE DEFRAGMENTED. Kemudian, pada saat proses defrag sedang
berlangsung, tidak boleh ada faktor apapun yang boleh menghentikan
proses defrag. Misalnya, mati lampu mendadak atau komputer tiba-tiba
restart. Jika proses defrag terhenti tiba-tiba karena mati lampu atau
komputer restart, hard disk bisa mengalami kerusakan, yang biasa
disebut bad sector, atau bahkan jebol (rusak total).
Bukannya memperoleh hard disk yang rapi dan kecepatan komputer
kembali normal, kita justru akan kehilangan data dan hard disk
menjadi rusak. Anda tidak ingin kejadian buruk seperti ini menimpa
anda, bukan?Sekali lagi, saya ingin memberi kabar baik untuk anda. Tahukah anda bahwa di Linux, anda tidak akan menemukan aplikasi untuk melakukan defrag? Mengapa? Karena di Linux anda memang tidak perlu men-defrag hard disk. Mengapa Windows memerlukan Defrag sementara Linux tidak?
Cara pengelolaan hard disk di Linux yang berbeda dengan Windows lah yang menyebabkan perbedaan menyolok ini. Windows mengelola hard disk dengan menggunakan dua macam format, yaitu FAT dan NTFS. Format FAT digunakan pada Windows 9x ke bawah (termasuk DOS), sedangkan NTFS digunakan pada Windows NT/2000/XP dan versi yang lebih baru. Linux menggunakan format yang berbeda, mulai dari Ext2, meningkat menjadi Ext3, dan kini bahkan sudah menjadi Ext4.
Bahasa teknisnya mungkin terlalu ribet. Namun sebuah ilustrasi yang saya kutip dari internet ini mungkin akan memudahkan anda memahami perbedaan cara mengelola hard disk di Linux dan Windows.
Bayangkanlah harddisk anda sebagai satu lemari data berukuran raksasa dengan jutaan rak. Masing-masing rak memiliki ukuran yang sama dan hanya dapat memuat sejumlah data. Jika ukuran data ternyata lebih besar daripada ukuran rak yang tersedia, maka data harus dipecah-pecah dan disimpan dalam beberapa rak. Beberapa data memiliki ukuran yang sangat besar hingga memerlukan ribuan rak untuk menyimpannya. Karena itu, akan lebih mudah mengaksesnya jika data yang berukuran raksasa itu diletakkan berdekatan dalam lemari.
Sekarang, bayangkanlah anda adalah pemilik lemari data itu, tetapi anda tidak punya cukup waktu untuk mengatur lemari tersebut. Maka, anda membuka lowongan kerja agar ada orang yang bisa mengurusnya. Para pelamar juga anda wajibkan untuk mempresentasikan manajemen pengelolaan rak yang akan mereka terapkan. Pada akhirnya, ada dua orang yang melamar dan sekaligus mempresentasikan manajemen pengelolaan raknya masing-masing.
Pelamar pertama memiliki
strategi sebagai berikut: Pada awal rak, dia akan meletakkan sebuah
buku catatan yang akan berisi data rak. Kemudian, dia akan mulai
meletakkan setiap data pada rak yang kosong secara berurutan, lalu
mencatatnya pada buku catatan yang diletakkan di awal rak. Karena
setiap hari ada ribuan data yang keluar dan masuk, maka setiap hari
selalu saja ada rak yang sebelumnya sudah terisi tapi kini menjadi
kosong karena data sudah terhapus atau keluar. Setiap kali ada data
yang masuk dan/atau keluar, dia harus meng-update buku catatan yang
ada di awal rak itu. Jika ada data baru yang masuk, maka dia akan
mencari rak kosong pertama yang dia temukan, lalu meletakkan data
tersebut pada rak kosong tersebut, kembali ke awal rak dan mencatat
letak rak, jumlah rak, dan jumlah data yang tersimpan pada rak
tersebut pada buku catatan di awal rak. Jika data tersebut ternyata
ukurannya lebih besar daripada ukuran rak kosong yang tersedia, maka
dia akan memecahkan data itu lalu mencari rak kosong berikutnya, dan
meletakkan sisa data pada rak kosong berikutnya yang dia temukan.
Kemudian dia akan kembali ke awal rak untuk mencatat letak rak,
jumlah rak, dan jumlah data yang disimpan pada buku catatan. Jika rak
itu tidak cukup juga, data dipecah kembali dan sisanya akan
ditempatkan pada rak kosong berikutnya, sampai seluruh data selesai
tersimpan pada rak, dan setiap kali dia memecah data, dia harus
selalu mencatat letak rak, jumlah rak, dan jumlah data yang disimpan
pada buku catatan.
Dengan segera anda bisa
melihat kelemahan manajemen pelamar pertama ini. Jika suatu hari anda
membutuhkan suatu data dan ternyata data itu telah dipecah-pecah
menjadi beberapa bagian dalam rak-rak yang terpisah, maka akan
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan data itu. Untuk
memudahkan anda menemukan data dengan cepat, maka anda harus menyewa
beberapa orang lagi untuk merapikan setiap rak dan menyatukan
data-data yang terpisah-pisah dalam satu rak yang berdekatan. Semakin
sering anda melakukannya, tentu akan semakin baik karena data belum
terlalu banyak terpecah-pecah. Bayangkanlah jika data dalam rak itu
tidak pernah dirapikan selama berbulan-bulan, sementara data selalu
keluar masuk setiap hari.
Oke, bagaimana dengan pelamar kedua? Pelamar kedua
mempresentasikan teknik yang berbeda. Ketika rak baru diisi, maka
semua data tentu akan ditempatkan berurutan. Seluruh letak data pada
rak dicatatnya pada sistem jurnal yang diletakkan pada awal rak.
Ketika ada data yang keluar atau dihapus, dia akan mencatat besarnya
ukuran rak yang kosong akibat data yang dihapus tadi. Ketika masuk
data yang baru, dia akan memeriksa besarnya data, lalu memeriksa
sistem jurnalnya untuk mencari rak kosong yang cukup untuk menampung
seluruh data dalam rak yang berdampingan, dan disanalah data tersebut
akan diletakkan. Dengan cara ini, data tidak akan pernah berada dalam
keadaan terpecah-pecah, dan tentu saja akan mudah menemukan data
dengan lebih cepat.
Ini hanyalah ilustrasi yang sangat sederhana. Pengelolaan hard
disk jauh lebih kompleks daripada contoh sederhana ini.Saya pikir anda sudah bisa melihat perbedaan menyolok dalam kedua teknik pengelolaan rak tadi. Windows menggunakan metode pelamar pertama, sementara Linux menggunakan metode yang kedua. Karena itu, semakin sering anda menggunakan Windows, akan semakin banyak file yang terpecah-pecah atau mengalami fragmentasi, dan semakin lambat pula anda akan mengakses suatu data. Dengan Linux, ini tidak akan terjadi.
Anda juga bisa mengambil langkah drastis, misalnya dengan menginstal ulang Windows anda. Tentu saja ini akan membuat Windows menjadi cepat kembali seperti sediakala. Namun, sekali lagi, semakin lama menggunakan Windows, kecepatan akan semakin menurun.
Jika anda memakai Linux, dua atau tiga tahun lagi komputer anda masih sama cepatnya seperti ketika anda menginstal Linux pertama kali. Sistem komputer anda akan tetap sama responsifnya dengan hari ketika anda pertama kali menginstal Linux. Linux sangat membantu anda memaksimalkan waktu anda untuk bekerja tanpa perlu menginstal ulang sistem operasi anda beberapa tahun lagi. Satu-satunya masalah kecepatan yang akan timbul jika anda menggunakan Linux adalah ketika hard disk anda sudah terisi sampai 99%! Jadi, pastikan Anda memiliki cukup ruang supaya Linux menangani sistemnya dan Anda tidak akan pernah mendapatkan masalah.
Jadi, tunggu apa lagi? Mari gunakan Linux. Jika anda masih ragu, anda boleh menggunakan dual-boot Linux-Windows tanpa perlu kuatir dengan data di Windows anda. Kelebihan lain dari Linux adalah Linux bisa membaca hard disk dengan format FAT dan NTFS. Jadi, jika anda menggunakan dual boot Linux-Windows, semua data anda di Windows bisa dilihat dengan menggunakan Linux. Sedangkan Windows tidak bisa bisa membaca hard disk dengan format Ext2, Ext3, apalagi Ext4.
Semua terserah anda!
Sabtu, 01 Februari 2014
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

